Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan kondisi faktual yang ada di masyarakat. Observasi lapangan difokuskan untuk mengidentifikasi permasalahan di Desa Barammamase untuk selanjutnya dilakukan analisa lingkugan internal dan eksternal dalam bentuk SWOT Analysis sebagai dasar perumusan program strategis bagi Desa bersangkutan. Walaupun kegiatan ini sifatnya hanya sebagai latihan tetapi diharapkan mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai ajang latihan untuk penyusunan rencana pembangunan secara partisipatif di tingkat desa.
Saat acara penerimaan di kantor desa, ada hal menarik yang disampaikan dengan sedikit lelucon oleh bapak kepala desa. Beliau berpesan kepada mahasiswa agar saat berada di lapangan untuk menyampaikan ke masyarakat kalau kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan "bantuan". Pernyataan ini sesungguhnya menggambarkan bahwa :
- Ada fakta tak terbantahkan bahwa desa Barammamase termasuk dalam kategori desa miskin.
- Masyarakat desa sudah terbiasa (mungkin karena dibiasakan) untuk bersikap pasif terhadap kondisinya sehingga
tepat apa yang dikatakan Tawney (1931) bahwa Ada desa-desa dimana posisi penduduk pedesaan ibarat orang yang selamanya berdiri terendam dalam air sampai ke leher, sehingga ombak yang kecil sekalipun sudah cukup menenggelamkan mereka.
- Kondisi yang dimaksudkan oleh kepala desa Barammamase boleh jadi juga dialami oleh sebagian besar desa-desa di Indonesia. Artinya, semakin menguatkan asumsi bahwa kemiskinan di tingkat desa memang sangat memprihatinkan.
Salah satu masalah mendasar yang dihadapi oleh masyarakat desa adalah kemiskinan, disamping diakibatkan oleh ketidakmampuan mengakses sumber-sumber permodalan, juga karena infrastruktur yang juga belum mendukung untuk dimanfaatkan masyarakat memperbaiki kehidupannya. Kemiskinan, harus diakui memang terus menjadi masalah fenomenal sepanjang sejarah Indonesia sebagai negara bangsa, bahkan hampir seluruh energi dihabiskan hanya untuk mengurus persoalan kemiskinan.
Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa masalah kemiskinan seakan tak pernah habis, sehingga di negara ini, rasanya tidak ada persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas.
Kemiskinan, menyebabkan masyarakat desa rela mengorbankan apa saja demi keselamatan hidup, safety life (James. C.Scott, 1981), mempertaruhkan tenaga fisik untuk memproduksi keuntungan bagi tengkulak lokal dan menerima upah yang tidak sepadan dengan biaya tenaga yang dikeluarkan. Para buruh tani desa bekerja sepanjang hari, tetapi mereka menerima upah yang sangat sedikit. Bahkan yang lebih parah, kemiskinan telah membuat masyarakat kita terjerembab dalam budaya memelas, budaya mengemis, dan menggantungkan harapannya dari budi baik pemerintah melalui pemberian bantuan.
Sepintas apa yang diucapkan kepala desa Barammamase saat memberikan sambutan memang biasa-biasa saja, tetapi jika dimaknai lebih dalam akan terlihat bahwa sesungguhnya di desa tersebut ada fenomena kemiskinan yang sangat membutuhkan perhatian. Penelusuran yang dilakukan semakin membuka fakta bahwa kondisi kemiskinan menjadi bagian dari hidup sebagian besar penduduk Desa Barammamase, tidak banyak hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sumber penghasilan tidak tetap dan teratur, banyak warga yang tidak mampu menyekolahkan anaknya sampai SMP atau bahkan memiliki aset seperti kendaraan ataupun hewan ternak. Belum lagi harus dihadapkan pada kondisi harga bahan pokok yang tidak selalu stabil dan terjangkau, sehingga untuk menyambung hidup, banyak warga yang meminjam uang ke rentenir, tentunya dengan bunga yang tidak kecil.
Potret kemiskinan tersebutlah yang senantiasa melekat erat pada masyarakat miskin di Desa Barammamase. Fenomena kemiskinan tersebut dapat terlihat pada beberapa kelompok sumber penghidupan di desa. Sumber-sumber penghidupan yang merupakan bagian dari konsentrasi kemiskinan desa antara lain adalah petani, buruh tani, pengrajin, montir, industri rumah tangga, penjahit, tukang batu, guru honorer, dan pengangguran. Fenomena paling nyata dari tiap kelompok miskin tersebut adalah rendahnya tingkat penghasilan per hari dan atau per bulan, misalnya saja untuk buruh tani hanya mampu menghasilkan Rp.10.000-25.000 per hari.
bersambung.........

0 komentar:
Posting Komentar