Tahun 2014 adalah tahun politik bagi Indonesia, paling tidak hingga akhir tahun ada dua hajatan politik yg digelar yaitu pemilu legislatif di bulan April dan Pemilu Presiden di bulan Juli. Kedua hajatan tersebut memberi peluang meningkatnya konsumsi masyarakat akibat kampanye politik yang menyertai hajatan politik, bahkan kementerian keuangan mempwrkirakan kontribusi pemilu terhadap pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan berkisar antara 0,2 sampai 0,3 persen.
Apa faktor yang menyebabkan korelasi antara pemilu dengan pertumbuhan ekonomi?. Berdasar pengalaman pada kegiatan pemilu sebelumnya, selalu saja berkontribusi positif dengan determinasi yang relatif signifikan. Pemicunya adalah karena tingkat konsumsi yang meningkat dari belanja politik para calon legislatif, calon presiden, dan partai politik. Namun demikian patut dicatat bahwa hal tersebut hanya memicu di sektor konsumsi barang akhir. Oleh karena itu dampaknya bersifat jangka pendek.
Besarnya belanja politik yang diprediksi terjadi pada dasarnya bisa dikalkulasi. Data KPU Pusat menunjukkan terdapat 6.607 orang yang berkompetisi untuk kursi di DPR-RI tentu ada puluhan atau mungkin ratusan ribu lagi yang bertarung di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. Secara ekonomi sekian banyak calon tersebut akan menggelontorkan sekian jumlah anggaran untuk belanja kampanyenya. Hal inilah yang akan memicu tumbuhnya konsumsi domestik dan pada akhirnya mendeterminasi produksi barang dan jasa.
0 komentar:
Posting Komentar