Di hari pertama Tahun 1436 Hijriyah, saya dan beberapa teman melakukan napak tilas informal ke daerah seberang yang masih wilayah Sulawesi Selatan. Selayar, yah ke Kabupaten Kepulauan Selayar.
Kami berangkat rencananya pagi sekali setelah shalat subuh, tapi ternyata tidak bisa karena saling tunggu peserta sehingga baru bisa berangkat jam 7.30 wita. Sepanjang perjalanan saya berusaha merekam sebaik mungkin keadaan daerah yang kami lalui, seakan tak ingin melewatkan hal-hal menarik yang kira-kira bisa dipublikasikan, disamping kepentingan pembelajaran bagi peminat juga untuk salurkan hobby menulis.
Setelah melewati perbatasan Gowa - Takalar saya coba meluaskan pandangan ke kiri kanan. Dengan nada bercanda seorang teman saya berkata, Takalar sekarang melempem, coba perhatikan apa yang kelihatan lebih maju sekarang ini. Saya lalu menimpali, loh Takalar kemarin mencatatkan rekor MURI kok untuk makan Lawi-Lawi terbanyak. Teman saya lalu mendebat, lalu apa impact dari rekor itu? Selain kebanggaan semu yang kurang bermakna bagi kemajuan Takalar.
Perdebatan saya berlanjut hingga masuk wilayah Jeneponto. Jika ditelisik, sesungguhnya banyak potensi terpendam di Takalar yang jika dikelolah secara cerdas akan mendatangkan nilai tambah ekonomi bagi daerah. Sebut saja potensi kelautan, pertanian, pariwisata, dan kawasan industri baru. Takalar sesungguhnya bukan sekedar penyanggah Makassar tapi sudah menjadi kawasan alternatif untuk pengembangan sektor industri dan jasa yang potensial. Lihatlah geliat ekonomi di sepanjang pesisir barat yang berbatasan langsung dengan Makassar. Membaiknya infrastruktur jalan yang menghubungkan Makassar memicu tumbuhnya sentra-sentra perdagangan dan jasa baru di Wilayah Galesong.
Memasuki wilayah Jeneponto khususnya di daerah sebelum Kota, terasa ada yang berbeda karena geliat ekonomi amat terasa. Entah karena semakin baiknya infrastruktur jalan atau karena sentuhan program pemerintah yang memang berkaitan langsung dengan tumbuhnya gairah ekonomi di wilayah ini. Jika dahulu, sulit membandingkan Jeneponto dengan Takalar, maka saat ini bisa dikatakan kalau Jeneponto lebih "genit" dibanding Takalar, bahkan untuk jangka panjang, Jeneponto bisa jauh lebih maju dibanding Takalar. Tentu ini tergantung kecerdasan pemimpin daerah itu masing-masing khususnya dalam melahirkan program yang benar-benar menyentuh ruang ekonomi masyarakat.
.... Lanjut nanti
0 komentar:
Posting Komentar